Sabtu, 16 April 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEMAM CHIKUNGUNYA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGADIROJO KECAMATAN NGADIROJO KABUPATEN PACITAN 2010

Wiwik Dwi Lestari
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
ABSTRACT
Chikungunya cases at February until March 2010 in sub-province Pacitan as
much as 1.002 cases. February in Central of Public Health Ngadirojo area to
take 12 villages was found 51 cases. The aim at this research to know the factors
related with chikungunya event. The research belongs to observational and used
case control approach. Population at the research were total visited patient in
Central of Public Health as much as 3.350 people with total sample were 96
people to consist of 48 people control group and 48 people case group was took
Simple Random Sampling method. The research was done with interview and
observation to take place in people house. Analysis data used Chi Square test. The
result of the research showed that found correlation hang clothes habit (p=
0,042), sleep habit at morning before the day and or the day before afternoon (p=
0,001) and also brush and wash bath tub habit (p= 0,001). While, factor
knowledge, used repellent habit, and close receiving-station of water habit don’t
have correlation with chikungunya event.
Key words : Chikungunya, knowledge, hang clothes, repellent, sleep habit, close
receiving-station of water, brush and wash bath tub


PENDAHULUAN
Cuaca atau iklim yang tidak menentu menyebabkan berbagai penyakit
bermunculan. Selain Demam Berdarah (DB) juga muncul penyakit chikungunya
yang juga ditandai dengan demam. Selain itu chikungunya juga ditandai dengan
postur penderita yang membungkuk akibat nyeri pada bagian persendian
(arthralgia) (Arini, 2010).
Penyakit chikungunya adalah re-emerging disease atau penyakit lama
yang kemudian merebak kembali. KLB chikungunya di dunia pertama kali terjadi
pada tahun 1779 di Batavia dan Kairo, tahun 1823 di Zanzibar, tahun 1824 di
India, tahun 1870 di Zanzibar, tahun 1871 di India, tahun 1901 di Hongkong,
Burma dan Madras, serta tahun 1973 di Calcuta. Di Indonesia, demam
chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda tahun 1973. Kemudian tahun
1980 di Kuala Tungkal, Jambi. Tahun 1983 merebak di Martapura, Ternate, dan
Yogyakarta (Hendro, 2005). Setelah hampir 20 tahun tidak ada kejadian maka
mulai tahun 2001 mulai dilaporkan adanya KLB chikungunya lagi di Indonesia
yaitu di Aceh, Sumatera Selatan dan Jawa Barat. Pada tahun 2002 terjadi KLB di
Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat (Heriyanto,
2005). Penyakit demam chikungunya terjadi pada tahun 1973 di Jakarta bersamasama
dengan kota Samarinda. Sejak Januari hingga Februari 2003, kasus
chikungunya dilaporkan menyerang Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten
Bandung sebanyak 218 penderita, di desa Balung Lor Kabupaten Jember
sebanyak 149 penderita dan Kabupaten Bolaang Mongondow sebanyak 608
penderita (Kemenkes, 2010). Demam chikungunya merupakan sejenis demam
yang diakibatkan oleh virus keluarga Togaviridae dan genus Alfavirus. Penyakit
ini cenderung menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada suatu wilayah
(Depkes, 2004).
Penyakit chikungunya dapat menimbulkan kepanikan dan ketakutan
masyarakat. Kepanikan ini timbul karena penderita menjadi lumpuh sementara
dan sakit ketika bergerak. Hal ini dikarenakan pada saat virus berkembang biak di
dalam darah, penderita merasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama diseputar
persendian sehingga penderita tidak berani menggerakkan anggota tubuhnya
(Zulkoni, 2010). Apalagi menurut Rita (2003), vaksin untuk pencegahan dan obat
untuk membasmi virus chikungunya belum ada (Kemenkes, 2010). Tidak ada
vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini, cukup dikompres, minum obat
penurun panas dan penghilang rasa sakit. Bagi penderita dianjurkan untuk istirahat
yang cukup, minum dan makan makanan yang bergizi, serta antisipasi terhadap
kejang demam karena penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya dan tidak
menyebabkan kematian (Zulkoni, 2010).
Cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit chikungunya adalah
dengan pencegahan. Cara pencegahan penyakit ini umumnya sama dengan cara
pencegahan terhadap penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yaitu
melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan menggunakan repellent, penggunaan
kelambu, melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan tindakan tiga
M (menutup, menguras dan mengubur barang bekas yang bisa menampung air
atau menaburkan bubuk abate pada penampungan air sebagaimana mencegah
demam berdarah), penyemprotan untuk membunuh nyamuk dewasa yang
terinfeksi dan memutuskan rantai penularan (Kemenkes, 2010).
Menurut Zulkoni (2010), demam chikungunya disebarkan melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti. Gejala awalnya terjadi demam tinggi disertai menggigil
yang mirip gejala influenza. Setelah itu mual-muntah, sakit kepala dan sakit perut.
Dalam empat hari rasa nyeri dan ngilu mulai terasa di tulang kaki kemudian
timbul bercak-bercak merah. Pada tahap berikutnya, penderita akan mengalami
kelumpuhan pada tangan dan kaki. Kadang-kadang juga terdapat sakit kepala dan
sedikit fotofobia. Salah satu gejala khas penyakit ini adalah timbulnya rasa pegalpegal,
ngilu, dan rasa sakit pada tulang-tulang sehingga disebut juga flu tulang.
Penyelidikan KLB chikungunya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa
Tengah bagian Selatan telah dilakukan menurut Bernadetta, dkk (2002), di
Kelurahan Trimulyo dengan CI = 1,51 - 2,20 mempunyai risiko terserang demam
chikungunya sebesar 1,82 kali lebih besar bila memiliki kebiasaan menggantung
pakaian dan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau siang hari menjelang
sore. Menurut Rewang, dkk (2002), jumlah kasus demam chikungunya
mengalami peningkatan setiap minggu di Desa Sumberagung Kecamatan Jetis
Kabupaten Bantul karena adanya penularan setempat oleh nyamuk Aedes aegypti
yang menyebabkan bertambahnya kasus baru. Faktor risiko pada keluarga dalam
penelitian ini adalah kepemilikan sumur terbuka (OR=2,13), tidak menutup
tempat air (OR=0,77), tidak menguras bak kamar mandi (OR=1,81), serta ada ban
bekas, botol kaleng, dan lain-lain di halaman rumah dengan OR=0,92.
Kasus chikungunya pada Bulan Januari hingga Maret tahun 2010 di
Kabupaten Pacitan sebanyak 1.002 kasus, sedangkan di Puskesmas Ngadirojo
masuk dalam peringkat empat besar dari 25 puskesmas di Kabupaten Pacitan yaitu
(Dinkes, 2010). Bulan Februari di wilayah Puskesmas Ngadirojo yang menangani
12 desa ditemukan 51 kasus, 51 kasus tersebut terjadi di Desa Sidomulyo
Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan (Puskesmas, 2010). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
demam chikungunya di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo
Kabupaten Pacitan.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan
case control. Subjek penelitian untuk kelompok kasus adalah penduduk wilayah
kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan yang
dinyatakan terkena demam chikungunya oleh puskesmas dan untuk kelompok
kontrol adalah masyarakat yang tidak menderita demam chikungunya yang tinggal
di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan
yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Waktu penelitian dilaksanakan
pada Bulan November sampai dengan Desember 2010. Tempat penelitian
dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo
Kabupaten Pacitan yang meliputi 12 desa. Pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan teknik Simple Random Sampling dengan jumlah sampel sebanyak
96 yang meliputi sampel kasus sebanyak 48 responden dan sampel kontrol
sebanyak 48 responden. Instrumen penelitian kuesioner dengan teknik
wawancara. Analisis data meliputi univariat dan bivariat dengan menggunakan uji
Chi Square (X2).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin di
Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo Tahun 2010
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki-laki
Perempuan
28
68
29,2
70,8
Jumlah 96 100
Karakteristik responden perempuan lebih banyak dari pada responden
laki-laki.
Karakteristik responden berdasarkan umur
Karakteristik responden berdasarkan golongan umur disajikan pada
Tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Golongan Umur di
Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo Tahun 2010
Kelompok Umur Frekuensi Persentase (%)
<17 Tahun
17-55 Tahun
>55 Tahun
7
61
28
7,3
63,5
29,2
Jumlah 96 100
Karakteristik responden penelitian terbesar adalah kelompok umur
17-55 tahun sebanyak 61 responden (63,5%) dan terendah pada kelompok umur <
17 tahun. Kelompok umur 17-55 tahun merupakan usia produktif responden, hal
ini dikarenakan pada usia tersebut banyak yang sudah bekerja dan memiliki
penghasilan.
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan disajikan pada
Tabel 3.
Tabel 3. Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan di
Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo Tahun 2010
Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
Tidak sekolah
SD
SLTP
SLTA
Akademik/PT
14
58
11
6
7
14,6
60,4
11,5
6,2
7,3
Jumlah 96 100
Sejumlah 96 responden mempunyai latar belakang pendidikan yang
berbeda, tingkat pendidikan terbesar adalah Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak
58 orang (60,4%) dan tingkat pendidikan terendah yaitu Sekolah Lanjutan Atas
(SLTA) sebesar enam orang (6,2%).
Analisis Univariat
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pengetahuan
Hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo
berdasarkan pengetahuan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan di
Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo Tahun 2010
Pengetahuan Kasus Kontrol Total
Kurang
Baik
37 (77,1%)
11 (22,9%)
38 (79,2%)
10 (20,8%)
75 (78,1%)
21 (21,9%)
Jumlah 48 (100%) 48 (100%) 96 (100%)
Jumlah responden yang pengetahuannya kurang terhadap kejadian demam
chikungunya lebih banyak dari pada yang memiliki pengetahuan baik.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menggantung
pakaian
Kebiasaan responden menggantung pakaian disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan menggantung
Pakaian di Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo Tahun 2010
Menggantung Pakaian Kasus Kontrol Total
Ya
Tidak
39 (81,2%)
9 (18,8%)
29 (60,4%)
19 (39,6%)
68 ( 70,8%)
28 (29,2%)
Jumlah 48 (100%) 48 (100%) 96 (100%)
Pada kasus demam chikungunya lebih banyak responden yang memiliki
kebiasaan menggantung pakaian dari pada yang tidak memiliki kebiasaan
menggantung pakaian.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan tidur pada pagi hari
menjelang siang dan atau siang hari menjelang sore
Kebiasaan responden tidur responden pada pagi hari menjelang siang dan
atau siang hari menjelang sore disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Tidur pada
Pagi Hari Menjelang Siang dan atau Siang Hari Menjelang Sore
di Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo Tahun 2010
Kebiasaan Tidur pada Pagi
Hari Menjelang Siang dan atau
Siang Hari Menjelang Sore
Kasus Kontrol Total
Ya
Tidak
37 (77,1%)
11 (22,9%)
16 (33,3%)
32 (66,7%)
53 (55,2%)
43 (44,8%)
Jumlah 48 (100 %) 48(100 %) 96 (100 %)
Responden yang memiliki kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang
dan atau siang hari menjelang sore lebih banyak pada kelompok kasus
dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menggunakan
repellent
Kebiasaan responden menggunakan repellent disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Menggunakan
Repellent di Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo Tahun 2010
Kebiasaan Menggunakan
Repellent
Kasus Kontrol Total
Ya
Tidak
1 (2,1%)
47 (97,9%)
7 (14,6%)
41 (85,4%)
8 (8,3%)
88 (91,7%)
Jumlah 48 (100%) 48 (100%) 96 (100%)
Pada kelompok kasus demam chikungunya maupun kelompok kontrol
hampir sama, sebagian besar responden tidak memiliki kebiasaan menggunakan
repellent.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menutup tempat
penampungan air
Kebiasaan responden menutup tempat penampungan air disajikan pada
Tabel 8.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Menutup
Tempat Penampungan Air di Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo
Tahun 2010
Kebiasaan Menutup
Tempat Penampungan Air
Kasus Kontrol Jumlah
Ya
Tidak
36 (75%)
12 (25%)
36 (75%)
12 (25%)
72 (75%)
24 (25%)
Jumlah 48 (100%) 48 (100%) 96 (100%)
Pada kelompok kasus demam chikungunya maupun kelompok kontrol
sama, sebagian besar responden memiliki kebiasaan menutup tempat
penampungan air.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kebiasaan menyikat dan
menguras bak mandi
Kebiasaan responden menyikat dan menguras bak mandi disajikan pada
Tabel 9.
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Menyikat
dan Menguras Bak Mandi di Wilayah Kerja Puskesmas Ngadirojo
Tahun 2010
Kebiasaan Menyikat dan
Menguras Bak Mandi
Kasus Kontrol Jumlah
Ya
Tidak
6 (12,5%)
42 (87,5%)
22 (45,8%)
26 (54,2%)
28 (29,2%)
68 (70,8%)
Jumlah 48 (100%) 48 (100%) 96 (100%)
Pada kelompok kasus sebagian besar responden tidak memiliki kebiasaan
menyikat dan menguras bak mandi. Sedangkan pada kelompok kontrol, responden
yang punya kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi dan yang tidak
melakukan hampir sama.
Analisis Bivariat
Hubungan antara pengetahuan dengan kejadian demam chikungunya
Hubungan antara pengetahuan dengan kejadian demam chikungunya
disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Analisis Hubungan antara Pengetahuan dengan Kejadian Demam
Chikungunya
Pengetahuan
Kejadian Demam
Chikungunya P value OR CI
Kasus Kontrol
Kurang
Baik
37 (77,1%)
11 (22,9%)
38 (79,2%)
10 (20,8%)
1 0,885 0,336 –
2,332
Jumlah 48 (100%) 48 (100%)
Responden yang memiliki pengetahuan kurang pada kelompok kasus
hanya berbeda sedikit dengan kelompok kontrol terhadap kejadian demam
chikungunya. Hasil uji Chi Square menunjukkan tidak ada hubungan antara
pengetahuan dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p=1>α=0,05.
Hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian terhadap kejadian
demam chikungunya
Hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian demam
chikungunya disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Analisis Hubungan antara Kebiasaan Menggantung Pakaian terhadap
Kejadian Demam Chikungunya
Kebiasaan
Menggantung
Pakaian
Kejadian Demam
Chikungunya P
value OR CI
Kasus Kontrol
Ya
Tidak
39 (81,2%)
9 (18,8%)
29 (60,4%)
19 (39,6%)
0.042 2,839 1,123-
7,177
Jumlah 48 (100%) 48 (100%)
Responden yang memiliki kebiasaan menggantung pakaian pada
kelompok kasus lebih banyak dari pada responden kelompok kontrol. Hasil uji
Chi Square menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian
dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p=0,042 <α=0,05. Hasil
perhitungan Odds Ratio (OR) diperoleh nilai sebesar 2,839 (Confidence Interval
95% = 1,123-7,177). Dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki kebiasaan
menggantung pakaian mempunyai risiko tertular demam chikungunya 2,839 kali
lebih besar dibanding dengan orang yang tidak memiliki kebiasaan menggantung
pakaian.
Hubungan antara kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau
siang hari menjelang sore dengan kejadian demam chikungunya
Hubungan antara kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau
siang hari menjelang sore dengan kejadian demam chikungunya disajikan pada
Tabel 12.
Tabel 12. Analisis Hubungan antara Kebiasaan Tidur pada Pagi Hari Menjelang
Siang dan atau Siang Hari Menjelang Sore dengan Kejadian Demam
Chikungunya
Kebiasaan Tidur pada
Pagi Hari Menjelang
Siang dan atau Siang
Hari Menjelang Sore
Kejadian Demam
Chikungunya P
value OR CI
Kasus Kontrol
Ya
Tidak
37 (77,1%)
11 (22,9%)
16 (33,3%)
32 (66,7%)
0,001 6,727 2,730-
16,576
Jumlah 48 (100%) 48 (100%)
Responden yang memiliki kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang
dan atau siang hari menjelang sore pada kelompok kasus lebih banyak dari pada
responden kelompok kontrol. Hasil uji Chi Square menunjukkan ada hubungan
antara kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau siang hari
menjelang sore dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p= 0,001 < α
= 0,05. Hasil perhitungan Odds Ratio (OR) diperoleh nilai sebesar 6,727
(Confidence Interval 95% = 2,730-16,576). Dapat dikatakan bahwa orang yang
memiliki kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau siang hari
menjelang sore mempunyai risiko tertular demam chikungunya 6,727 kali lebih
besar dibanding dengan orang yang tidak memiliki kebiasaan tidur pada pagi hari
menjelang siang dan atau siang hari menjelang sore.
Hubungan antara kebiasaan menggunakan repellent dengan kejadian
demam chikungunya
Hubungan antara kebiasaan menggunakan repellent dengan kejadian
demam chikungunya disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13. Analisis Hubungan antara Kebiasaan Menggunakan Repellent dengan
Kejadian Demam Chikungunya
Kebiasaan
Menggunakan
Repellent
Kejadian Demam
Chikungunya P value OR CI
Kasus Kontrol
Tidak
Ya
47 (97,9%)
1 (2,1%)
41 (85,4%)
7 (14,6%)
0,059 8,024 0,947 -
67,981
Jumlah 48 (100%) 48 (100%)
Responden yang tidak memiliki kebiasaan menggunakan repellent pada
kelompok kasus berbeda sedikit dengan responden kelompok kontrol. Hasil uji
Chi Square menunjukkan tidak ada hubungan antara kebiasaan menggunakan
repellent dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p= 0,059 > α = 0,05.
Hubungan antara kebiasaan menutup tempat penampungan air dengan
kejadian demam chikungunya
Hubungan antara kebiasaan menutup tempat penampungan air dengan
kejadian demam chikungunya disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Analisis Hubungan antara Kebiasaan Menutup Tempat Penampungan
Air dengan Kejadian Demam Chikungunya
Kebiasaan
Menutup Tempat
Penampungan Air
Kejadian Demam
Chikungunya P value OR CI
Kasus Kontrol
Tidak
Ya
12 (25 %)
36 (75%)
12 (25 %)
36 (75%)
1 1 0,397-
2,519
Jumlah 48 (100%) 48 (100%)
Responden yang memiliki kebiasaan menutup tempat penampungan air
pada kelompok kasus sama besar dengan kelompok kontrol. Hasil uji Chi Square
menunjukkan tidak ada hubungan antara kebiasaan menutup tempat penampungan
air dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p= 1 > α = 0,05.
Hubungan antara kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi dengan
kejadian demam chikungunya
Hubungan antara kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi dengan
kejadian demam chikungunya disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Analisis Hubungan antara Kebiasaan Menyikat dan Menguras Bak
Mandi dengan Kejadian Demam Chikungunya
Kebiasaan
Menyikat dan
Menguras Bak
Mandi
Kejadian Demam
Chikungunya P value OR CI
Kasus Kontrol
Tidak
Ya
42 (87,5 %)
6 (12,5 %)
26 (54,2 %)
22 (45,8%)
0.001 5,923 2,122-
16,536
Jumlah 48 (100%) 48 (100%)
Responden yang tidak memiliki kebiasaan menyikat dan menguras bak
mandi pada kelompok kasus lebih besar dibanding dengan kelompok kontrol.
Hasil uji Chi Square menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan menyikat dan
menguras bak mandi dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p= 0,001
< α = 0,05 Hasil perhitungan Odds Ratio (OR) diperoleh nilai sebesar 5,923
(Confidence Interval 95% = 2,122-16,536). Dapat dikatakan bahwa responden
yang tidak memiliki kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi mempunyai
risiko tertular demam chikungunya 5,923 kali lebih besar dibanding dengan
responden yang memiliki kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi.
PEMBAHASAN
Hubungan antara Pengetahuan dengan Kejadian Demam Chikungunya
Hasil penelitian di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan
Ngadirojo seperti yang disajikan pada Tabel 10, diketahui bahwa responden yang
memiliki pengetahuan kurang pada kelompok kasus yaitu sebesar 37 orang
(77,1%), sedangkan pada kelompok kontrol yang memiliki pengetahuan kurang
terhadap kejadian demam chikungunya yaitu 38 orang (79,2%). Hasil uji Chi
Square menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian
demam chikungunya, didapat nilai p= 1 > α = 0,05.
Pengetahuan responden di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo
kebanyakan kurang mengetahui tentang penyakit chikungunya. Terbukti pada
Tabel 3, distribusi frekuensi tingkat pendidikan rata-rata responden adalah tamat
SD (Sekolah Dasar). Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Oktikasari dkk (2008), di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok Tahun
2006, yang menyatakan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian
demam chikungunya, tetapi berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh
Apriliyani (2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara
pengetahuan kepala keluarga tentang pencegahan DBD dengan Container Index
dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0,495 dan p-value 0,000 yang dilakukan
di Desa Gondang Tani Kabupaten Sragen tahun 2008.
Hubungan antara Kebiasaan Menggantung Pakaian dengan Kejadian Demam
Chikungunya
Hasil penelitian pada variabel kebiasaan menggantung pakaian dengan
kejadian demam chikungunya di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan
Ngadirojo seperti yang disajikan pada Tabel 11, diketahui bahwa responden yang
memiliki kebiasaan menggantung pakaian pada kelompok kasus yaitu sebesar 39
orang (81,2%), sedangkan pada kelompok kontrol yang memiliki kebiasaan
menggantung pakaian terhadap kejadian demam chikungunya yaitu 29 orang
(60,4%). Hasil uji Chi Square menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan
menggantung pakaian dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p=
0,042 < α = 0,05. Hasil perhitungan Odds Ratio (OR) diperoleh nilai sebesar
2,839 (Confidence Interval 95%= 1,123-7,177). Dapat dikatakan bahwa orang
yang memiliki kebiasaan menggantung pakaian mempunyai risiko tertular demam
chikungunya 2,839 kali lebih besar dibanding dengan orang yang tidak memiliki
kebiasaan menggantung pakaian. Keadaan ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Suparno dkk (2003), di Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan,
Kabupaten Klaten Tahun 2003, yang menyatakan bahwa kebiasaan menggantung
pakaian di rumah menjadi faktor risiko terserang penyakit demam chikungunya
(p= 0,001), tetapi berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Arsanti (2007)
di Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang yang
menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian
dengan kejadian penyakit demam chikungunya.
Hubungan antara Kebiasaan Tidur pada Pagi Hari Menjelang Siang dan atau
Siang Hari Menjelang Sore dengan Kejadian Demam Chikungunya
Hasil penelitian pada variabel kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang
siang dan atau siang hari menjelang sore dari 96 responden di wilayah kerja
Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo dapat dilihat Tabel 12, diketahui
bahwa responden yang memiliki kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang
dan atau siang hari menjelang sore, pada kelompok kasus sebesar 37 orang
(77,1%), sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 16 orang (33,3%). Hasil uji
Chi Square menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan tidur pada pagi hari
menjelang siang dan atau siang hari menjelang sore dengan kejadian demam
chikungunya, didapat nilai p= 0,001 < α = 0,05. Hasil perhitungan Odds Ratio
(OR) diperoleh nilai sebesar 6,727 (Confidence Interval 95%= 2,730-16,576).
Dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki kebiasaan tidur pada pagi hari
menjelang siang dan atau siang hari menjelang sore mempunyai risiko tertular
demam chikungunya 6,727 kali lebih besar dibanding dengan orang yang tidak
memiliki kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau siang hari
menjelang sore.
Keadaan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bernadetta dkk
(2003), di Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul Tahun 2002,
yang menyatakan kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau siang
hari menjelang sore berhubungan dengan kejadian demam chikungunya dengan
p= 0,000. Tetapi tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Suparno dkk
(2003) di Desa Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten yang
menyatakan bahwa kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau siang
hari menjelang sore tidak berhubungan dengan kejadian demam chikungunya
dengan p= 0,12004.
Hubungan antara Kebiasaan Menggunakan Repellent dengan Kejadian Demam
Chikungunya
Hasil wawancara responden di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo
Kecamatan Ngadirojo seperti pada Tabel 7, menunjukkan rata-rata responden
tidak menggunakan repellent dikarenakan kebanyakan responden belum
mengetahui manfaat penggunaan repellent sehingga kemungkinan digigit nyamuk
lebih besar dibandingkan dengan responden yang menggunakan repellent.
Hasil penelitian pada variabel kebiasaan menggunakan repellent dengan
kejadian demam chikungunya, dari jumlah responden sebanyak 96 orang, yang
terdiri dari kelompok kasus sebesar 48 responden dan kelompok kontrol sebesar
48 responden di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo Kecamatan Ngadirojo dapat
dilihat pada Tabel 13, diketahui bahwa responden yang tidak memiliki kebiasaan
menggunakan repellent pada kelompok kasus sebesar 47 orang (97,9%),
sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 41 orang (85,4%). Hasil uji Chi Square
menunjukkan tidak ada hubungan antara kebiasaan menggunakan repellent
dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p= 0,059 > α = 0,05. Keadaan
ini sesuai dengan hasil penelitian Arsanti (2007) di Kelurahan Bandarharjo
Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang. Yang menyatakan bahwa tidak ada
hubungan antara praktik memakai repellent dengan kejadian demam chikungunya.
Hubungan antara Kebiasaan Menutup Tempat Penampungan Air dengan
Kejadian Demam Chikungunya
Hasil wawancara responden di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo
Kecamatan Ngadirojo seperti pada Tabel 8, menunjukkan bahwa kebanyakan
responden memiliki kebiasaan menutup penampungan air, sehingga nyamuk
Aedas aegypti tidak bisa berkembang biak di tempat penampungan air.
Hasil penelitian pada variabel kebiasaan menutup tempat penampungan air
dengan kejadian demam chikungunya di wilayah kerja Puskesmas Ngadirojo
Kecamatan Ngadirojo dapat dilihat pada Tabel 14, diketahui bahwa responden
yang memiliki kebiasaan menutup tempat penampungan air baik pada kelompok
kasus maupun kontrol sebesar 36 orang (75%). Hasil uji Chi Square menunjukkan
tidak ada hubungan antara kebiasaan menutup tempat penampungan air dengan
kejadian demam chikungunya, didapat nilai p= 1 > α = 0,05. Keadaan ini tidak
sesuai dengan hasil penelitian Suparno dkk (2003), di Desa Tangkisan Pos,
Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten Tahun 2003, menyatakan bahwa
kebiasaan menutup tempat penampungan air berhubungan dengan kejadian
demam chikungunya (p = 0,0001), dan penelitian yang dilakukan oleh Arsanti
(2007) di Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang.
Yang menyatakan bahwa menutup kontainer ada hubungan dengan kejadian
demam chikungunya (OR=3,9; p=0,0001).
Hubungan antara Kebiasaan Menyikat dan Menguras Bak Mandi dengan
Kejadian Demam Chikungunya
Hasil penelitian mengenai hubungan antara kebiasaan menyikat dan
menguras bak mandi dengan kejadian demam chikungunya dapat dilihat pada
Tabel 15, diketahui bahwa responden yang tidak memiliki kebiasaan menyikat
dan menguras bak mandi pada kelompok kasus sebesar 42 orang (87,5%),
sedangkan pada kelompok kontrol sebanyak 26 orang (54,2%). Hasil uji Chi
Square menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan menyikat dan menguras bak
mandi dengan kejadian demam chikungunya, didapat nilai p= 0,001 < α = 0,05.
Hasil perhitungan Odds Ratio (OR) diperoleh nilai sebesar 5,923 (Confidence
Interval 95% = 2,122-16,536). Dapat dikatakan bahwa responden yang tidak
memiliki kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi mempunyai risiko tertular
demam chikungunya 5,923 kali lebih besar dibanding dengan responden yang
memiliki kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi.
Keadaan ini sesuai dengan hasil penelitian Suparno dkk (2003), di Desa
Tangkisan Pos, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten Tahun 2003, yang
menyatakan kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi berhubungan dengan
kejadian demam chikungunya dengan nilai p = 0,000 dan penelitian Rewang dkk
(2003), di Desa Sumberagung, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul Tahun 2002,
yang menyatakan bahwa kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi
berhubungan dengan kejadian demam chikungunya (p = 0,005), serta penelitian
yang dilakukan oleh Palupi (2009) di Wilayah Kerja Puskesmas I Gatak
Kabupaten Sukoharjo yang menyatakan bahwa praktik menguras tempat
penampungan air berhubungan dengan kejadian demam chikungunya (p=0,005,
OR=3,701, CI=1,473-9,535). Nyamuk Aedes aegypti senang bertelur di bak
penampungan air bersih. Mengingat nyamuk tersebut berkembangbiak dari telur
hingga menjadi nyamuk dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari maka perlu
menyikat dan menguras bak penampungan air secara teratur. Sehingga jentik tidak
bisa tumbuh menjadi nyamuk dewasa dan tidak menyebarkan penyakit demam
chikungunya.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang dilakukan penulis saat ini pada kuesioner divariabel
pengetahuan kurang valid, hal ini menimbulkan kesalah pahaman responden
akibat penggunaan istilah kesehatan yang tidak sederhana. Namun, kekurangan ini
sudah berusaha diatasi penulis dengan memberi keterangan sesuai kebutuhan
responden pada saat wawancara dilakukan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Tidak ada hubungan antara pengetahuan, kebiasaan menggunakan repellent, dan
kebiasaan menutup penampungan air dengan kejadian demam chikungunya.
Sedangkan ada hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian, kebiasaan tidur
pada pagi hari menjelang siang dan atau siang hari menjelang sore, serta
kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi dengan kejadian demam
chikungunya di wilayah Puskesmas Ngadirojo.
Saran
Bagi masyarakat, diharapkan tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam
rumah, tidak membiasakan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau siang hari
menjelang sore hari, dan pentingnya kebiasaan menyikat dan menguras bak mandi secara
rutin. Bagi Dinas Kesehatan, diharapkan meningkatkan penyuluhan secara intensif,
guna memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara mencegah dan
menanggulangi penyakit demam chikungunya yaitu diantaranya dengan tidak
membiasakan menggantung pakaian di dalam rumah, serta pentingnya menggalakkan
tindakan pencegahan memberantas nyamuk dengan tiga M khususnya kegiatan menyikat
dan menguras bak mandi, dan meningkatkan penyuluhan secara intensif tentang
kebiasaan tidur pada pagi hari menjelang siang dan atau siang hari menjelang sore dengan
kejadian demam chikungunya. Bagi peneliti lain, melakukan penelitian yang berkaitan
dengan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian chikungunya seperti, keadaan
fisik rumah, genangan air di sekitar rumah, dan tingkat kekebalan tubuh (imunitas)
masyarakat.
UCAPAN TERIMA KASIH
1. Bapak Arif Widodo, A.Kep, M.Kes., selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
dan segenap jajaran Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
2. Ibu Yuli Kusumawati SKM, M.Kes.(Epid), selaku Ketua Program Studi
Kesehatan Masyarakat serta selaku penguji I yang telah memberikan masukan
dan saran untuk perbaikan penyusunan skripsi ini
3. Bapak Badar Kirwono, SKM, M.Kes., selaku pembimbing I serta selaku ketua
penguji atas segala masukan, bimbingan, dan pengarahan kepada penulis.
4. Ibu Ambarwati, S.Pd, M.Si., selaku pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan, pengarahan, dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.
5. Ibu Dwi Linna Suswardany, SKM, MPH., selaku penguji II yang telah
memberikan masukan dan saran untuk perbaikan penyusunan skripsi ini
6. Bapak Ir. H. Wasi Prayitno, M.Sc., selaku Kepala Badan Kesatuan Bangsa
Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Pacitan yang telah membantu
dan memberikan ijin penelitian.
7. Bapak Dr. Sukamto, selaku Kepala Puskesmas Ngadirojo Kabupaten Pacitan
yang telah mengijinkan penulis melakukan penelitian.
8. Bapak Ibu Dosen Kesehatan Masyarakat baik tetap maupun tamu, ilmu dan
pengalaman dari anda sangat berarti dan bermanfaat khususnya bagi saya.
9. Bapak, ibu, mbak Ana, dan adikku Lia yang telah memberikan do’a tanpa
kenal waktu, semangat, nasihat, dukungan, dan kasih sayang yang tak
terhitung banyaknya.
10. Sahabat-sahabatku yang selalu mendoakan aku dan seseorang yang ikhlas
membantuku dalam segala hal.
11. Teman-teman seperjuangan Kesehatan Masyarakat khusus angkatan 2006
yang memberikan semangat inspirasi dan persahabatan untuk berbagi ilmu
selama masa-masa kita bersama.
12. Kawan-kawan aktivis baik dari dalam maupun dari luar kampus UMS terima
kasih untuk semua ilmu, kebersamaan, mencari pengalaman dan kerja
samanya untuk belajar berorganisasi yang sangat memberikan arti tersendiri
bagi saya pribadi.
13. Kawan-kawan kost baik kost dulu maupun sekarang yang menemani dan
memberi semangat untuk menjalani hidup bagaimana menjadi makhluk sosial
dan semoga jalinan ukhuwah terus berlanjut.
14. Serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang telah
memberikan dukungan dan dorongan dalam penyelesaian skripsi ini.
KEPUSTAKAAN
Abraham AM, Sridharan G. 2007. Chikungunya virus infection – a resurgent
scourge. Indian J Med Res 126. December 2007 : 502-504.
Alwi H, dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai
Pustaka.
Apriliyani, FB. 2008. Hubungan antara Pengetahuan Kepala Keluarga tentang
Pencegahan DBD dengan Container Index di Desa Gondang Tani
Kabupaten Sragen Tahun 2008. (Skripsi) Surakarta: Fakultas Kesehatan
Masyarakat UMS.
Arikunto, S. 2008. Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoretis Praktis Bagi
Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arini. 2010. Lingkungan Kotor Mengundang Chikungunya. Fajar. 23 Januari
2010: 6. Kol. 5-6.
Arsanti, AE. 2007. Hubungan Beberapa Faktor Lingkungan dan Praktik
Pencegahan dengan Kejadian Suspect Demam Chikungunya di Kelurahan
Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang. (Skripsi)
Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP.
Bernadetta R, Nurjanah S, Trisno AW, Mizwar, Ning S, Alexander P, Dibyo P.
2002. Penyidikan KLB Kasus Tersangka Chikungunya di Kelurahan
Trimulyo Kecamatan Jetis Kabupaten Bantul DIY. Makalah pada Seminar
Penanggulangan KLB Chikungunya dan KLB Lainnya di DIY dan Jawa
Tengah Bagian Selatan.Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UGM.
Depkes. 2004. Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (Pedoman
Epidemiologi Penyakit). Jakarta: Ditjen PPM dan PL Depkes RI.
Dinkes. 2010. Data Kasus Chikungunya di Kabupaten Pacitan.
Dinkes. 2006. Prosedur Tetap Penanggulangan KLB dan Bencana Provinsi Jawa
Tengah. Jawa Tengah: Dinkes Jateng.
Eppy. 2008. Demam Chikungunya. Medicinus. Vol. 21. No. 2. April-Juni
2008:24.
Ginanjar, G. 2008. Apa yang Dokter Anda tidak Katakan tentang Demam
Berdarah. Yogyakarta: Penerbit Buku B-first.
Handrawan, N. 2007. Cara Mudah Mengalahkan Demam Berdarah. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas.
Hendro R, Raharjo E, Maha M.S, Saragih J.M. 2005. Investigasi Kejadian Luar
Biasa (KLB) Chikungunya di Desa Harja Mekar dan Pabayuran
Kabupaten Bekasi Tahun 2003. Balitbangkes Depkes RI. Cermin Dunia
Kedokteran; 148: 40-42.
Heriyanto B, Muchlastriningsih E, Susilowati S, Hutauruk D.S. 2005.
Kecenderungan Kejadian Luar Biasa Chikungunya di Indonesia Tahun
2001-2003. Balitbangkes Depkes RI. Cermin Dunia Kedokteran; 148: 37-
39.
Hidayat, AAA. 2008. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta: Salemba Medika.
Kandun, I.N. (ED). 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta:
Infomedika.
Kemenkes. 2010. Ensiklopedia Bebas. (artikel elektronik). www.wikipedia.org.
Diakses: 3 Juni 2010.
Kemenkes. 2010. Waspadai Demam Chikungunya. (artikel elektronik).
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/491-waspadaidemam-
chikungunya.html. Diakses: 14 April 2010.
Lemeshow S., Hosmer DW., Klar J., Lwanga SK. 1997. Besar Sampel dalam
Penelitian Kesehatan (Terjemahan). Yogyakarta: UGM Press.
Noor, NN. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo,S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
_________. 2005. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Kesehatan. Yogyakarta: Andi Offset.
_________. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
Oktikasari FY, Susanna D, Djaja IM. 2008. Faktor Sosiodemografi dan
Lingkungan yang Mempengaruhi Kejadian Luar Biasa Chikungunya di
Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok 2006. Makara
Kesehatan. Vol. 12. No. 1. Juni 2008:22.
Palupi, R. 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Chikungunya di Wilayah Kerja Puskesmas I Gatak Kabupaten Sukoharjo.
(Skripsi) Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP.
Puskesmas Ngadirojo. 2010. Data Kasus Chikungunya di Wilayah Kerja
Puskesmas Ngadirojo Kabupaten Pacitan Tahun 2010.
Rahayu, L. 2010. Waspada Wabah Penyakit Panduan untuk Orang Awam.
Bandung: Nuansa.
Rewang NS, Buddy HIS, Pireno BM, Primus R, Prabowo, Kushadiwijaya H.
2002. Penyidikan KLB Kasus Tersangka Chikungunya di Desa
Sumberagung Kecamatan Jetis Kabupaten Bantul DIY. Makalah pada
Seminar Penanggulangan KLB Chikungunya dan KLB Lainnya di DIY
dan Jawa Tengah Bagian Selatan.Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UGM.
Riwidikdo, H. 2008. Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Safar, R. 2009. Parasitologi Kedokteran: Protozoologi Helmintologi Entomologi.
Jakarta: Yrama Widya.
Soedarto. 2007. Sinopsis Kedokteran Tropis. Surabaya: Airlangga University
Press.
Soegijanto, S. 2004. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia.
Surabaya: Airlangga University Press.
Suparno B, Suharsono, Budiningsih N. 2002. Penyidikan KLB Kasus Tersangka
Chikungunya di Desa Tangkisan Pos Kecamatan Jogonalan Kabupaten
Klaten Jawa Tengah. Makalah pada Seminar Penanggulangan KLB
Chikungunya dan KLB Lainnya di DIY dan Jawa Tengah Bagian
Selatan.Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UGM.
Sutanto I, Ismid IS, Pudji K, Sjarifuddin, Sungkar S. 2008. Parasitologi
Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Zulkoni, A. 2010. Parasitologi. Yogyakarta: Nuha Medika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar